Home > cerpen/short stories > Kisah Seorang Pasien

Kisah Seorang Pasien

(karena DB, jadi ingin memasang sebuah cerpen)

Warning!: Tidak ada kaitan dengan kenyataan, kesamaan nama tempat dll hanya sebuah kebetulan

Disebuah rumah sakit di ibukota terbaaring seorang pasiendi kamar VIP. konon kondisinya sudah sangat kritis. mari kita dengar kisahnya.

Nama saya tidaklah penting.Saya dilahirkan 87 tahun yang lalu di sebuah desa kecil disaat saat negara ini belum merdeka. saya hanyalah anak petani miskin,keluarga tak berpunya. Saat itu pendidikan sangat mahal, hanya tuan tanah yang dapat menikmatinya. Tapi saya berbeda dengan anak-anak sekampung. Saya memiliki cita-cita, dalam kata lain, ambisi.

Walau saya hanya mengenyam pendidikan sebentar, tapi saya dapat bekerja di kantor sipil. Ya bukan pekerjaan yang sangat menguntungkan, gajinya hanya cukup untuk membiayai makan sendiri dan mengurus upeti yang harus masuk ke kantong pejabat-pejabat kaum penjajah. Tapi dalam waktu dekat saya harus kehilangan pekerjaan karena harga bahan pokok melambung tinggi dan ribuan kantor harus gulung tikar. Dengan susah payah, saya mencoba untuk hidup, sayamenjadi tukang semir sepatu,penjual tikar kusam, bahkan pemulung, tapi kesempatan datang juga, Karena negara penjajah sedang dalam perang, saya mencoba bergabung dengan angkatan senjata. ketika perang berakhir, Angkatan bersenjata pun bangkit dan berontak, maka muncullah negaraini dengan seorang intelektual sebagai presiden pertama.

Saat awal-awal kemerdekaan bukanlah saat saat yang manis, saya harus membungkam pemberontakan yang merajalela. Namun pahit saya telan, pemberontakan-demi pemberontakan saya lalui sampai saya menjabat sebagai petinggi militer negeri ini. Namun sebuah pemberontakan lepas dari tanganku, dan berhasil menjatuhkan presiden kami yang semakin hari semakin paranoid. Disaat darurat, saya ditunjuk sebagai presiden berikutnya.saat itu aku baru berumur 36, muda, memang.

Saat itu kuberantas para pemberontak, walau aku tidak tahu apakah itu benar atau salah, tapi kulaksanakan tugasku. kuadakan perombakan besar dibidang domestik, mulai dari pertanian sampai industri kuperbaharui .Hutang hutang yang ditinggalkan oleh pendahuluku, berhasil kubayar. Bahkan negara negara lain pun takut kepadaku mereka menawarkan perjanjian perjanjian damai dan meminta perlindungan ketika negara sahabat berkunjung ke negara tetangga. Memang kuakui keahlian militerku menurut negara tetangga dan musuh musuhku sangat luar biasa, walau kurasa mereka terlalu hiperbola.

Saat anak-anakku lahir, kudidik mereka segenap hati, agar tidak mengalami penderitaan yang dulu kualami, kudidik mereka dengan sebagian besar gajiku. Kurelakan walau aku harus hidup di sebuah rumah sederhana seluas 46 m2 . Biarlah agar mereka dapat belajar dengan baik.

Sudah 4 dekade saya memerintah,kurasa saya sudah menikmati masa masaku, Anak-anakku sudah sukses, ada yang menjadi businessman ada yang menjadi politikus, biarlah kini orang lain memerintah. walau saya tetap menjadi presiden, saya tidak memerintah lagi, anak-anak sayalah yang memegang kekuasaan dibalik foto saya yang terpampang sebagai presiden.

Tapi saat itu, pada tahun kepemimpinan saya yang ke 48, rakyat pun bosan. Saya digulingkan dari tampuk kepemimpinan. Dan digantikan oleh presiden lainnya.

Kini nama saya dicerca oleh jutaan manusia, semua hanya mengingat tahun tahun terakhir kepemimpinan saya, tidak ada lagi yang mau mengingat keberhasilan gemilang yang saya capai pada masa-masa awal pemerintahan saya.

Dan kini anak-anak saya dikejar-kejar, sedangkan ayahnya tidak dapat melindunginya karena harus  terbaring di rumah sakit ini, sebagian besar badan saya sudah lumpuh,berkata-kata pun sulit. Kini saya tinggal menunggu ajal.

Walau saya sudah menjadikan bangsa ini bangsa yang kuat, kini saya dicerca. Istirahat tanagng yang saya damba-dambakan kini tidak dapat saya miliki. biarkanlah saya istirahat walau sebentar saja.

Categories: cerpen/short stories
  1. May 18, 2007 at 9:22 am | #1

    Hahahaha, katanya cerpen saya agak mirip dengan Gun. Mungkin inspirasi datang dari sana…

    …dan kamu juga ikut buat. :mrgreen:

  2. May 18, 2007 at 11:35 am | #2

    Masa sih?? Aku gak tau cerpen yang mana….. Cerpen gun yg saya baca baru kisah tiga rumah makan…. NaShi-sangu makanan…hehehe…

  3. May 18, 2007 at 1:46 pm | #3

    Cerpen saya tidak saya rilis di Blog, tuanku…

    “Bunga Bangsa Di Hari Tua”, kisah mantan atlet…

    Kisah Seorang Pasien >> Kisah Seorang Presiden :lol:

  4. May 18, 2007 at 2:10 pm | #4

    oh,hehehe…. belum baca…..

  5. May 22, 2007 at 1:38 pm | #5

    Malas post ah~

    Cerpennya terlalu lurus…saya mau cerpen yang ironis~

  6. May 27, 2007 at 4:28 pm | #6

    waaaah!!! cerpen yg bgs!!! XD

    keep it up, marsh!! XD

  7. May 30, 2007 at 3:02 am | #7

    Rasanya jadi teringat seseorang..
    Siapa ya?
    Anyway,itu cerita bagus..

  8. June 3, 2007 at 2:59 pm | #8

    oh, beliau yang dicerita bukannya keturunan juga? :D

  9. August 19, 2008 at 2:56 am | #9

    pasien atau presiden ? :)

  1. No trackbacks yet.